Home > Info Pendidikan > Membangkitkan Roh Pendidikan

Membangkitkan Roh Pendidikan

Editor : Armen

Membangkitkan Roh Pendidikan

Oleh : Prof Dr H Ki Supriyoko
Pengasuh Pesantren Ar-Raudhah Yogyakarta dan Wakil Presiden Pan-Pacific Association of Private Education (PAPE) Tokyo, Jepang

Tidak ada bangsa yang bangkit dari keterpurukan kalau pendidikannya mlempem. Filosofi ini perlu ditanamkan bagi bangsa Indonesia umumnya dan pimpinan partai politik pada khususnya, yang notabene sudah baru saja memulai kampanye pemilu. Hal ini penting karena jalannya roda pendidikan kita masih terseok-seok dan ada beberapa faset yang hilang.

Ada ilustrasi empiris yang pernah saya alami. Bersama seorang sahabat asli Jepang yang berprofesi sebagai dosen di Showa University saya menghabiskan waktu sigh seeing Tokyo. Ketika turun dari kereta api di Stasiun Shinjuku, sahabat saya itu membungkukkan badan 90 derajat sebagai tanda penghormatan kepada seseorang yang berpapasan dengannya. Ketika saya tanyakan siapa orang itu, dia menjawab orang tersebut adalah guru dari anaknya yang masih belajar di SD.

Pendidikan di Jepang mengajarkan siswa hormat kepada siapa saja, terutama orang tua dan guru (sensei). Guru di Jepang sangat terhormat, bukan saja siswanya tetapi keluarga siswanya pun memberi hormat. Sahabat saya tadi meski ia seorang intelektual, master, doktor, dan dosen ahli di universitas terkenal tetap saja memberikan penghormatan yang tulus kepada seorang yang hanya berprofesi sebagai guru SD. Hal yang sederhana tetapi penuh makna seperti itulah yang hilang dari pendidikan nasional kita sekarang.

Roh pendidikan
Penghormatan kepada guru merupakan cermin kehidupan masyarakat Jepang. Meskipun tidak mampu berkelit dari kehidupan industrialis yang sarat dengan kompetisi, nilai-nilai bijak masyarakat Jepang seperti menghormati orang lain, toleransi, dan saling sapa tetap dipertahankan, bahkan dikembangkan di sekolah. Pengembangan nilai-nilai bijak tersebut diyakini sangat efektif melalui pendidikan dan hasilnya tecermin dalam kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat Jepang sangat menghormati guru karena pada umumnya sang guru menganggap anak dalam pengertian keluarga ketika mendidik anak didiknya. Tanggung jawab guru dalam memajukan siswa, baik intelek-tual maupun kepribadian, sungguh-sungguh tidak diragukan. Di sinilah letak kunci penghormatan itu.

Karena siswa sudah dianggap sebagai anak dalam pengertian keluarga maka dalam mendidik siswa, seorang guru melakukannya dengan rasa kasih sayang (love and affection), penuh keikhlasan (sincerely), kejujuran (honesty), keagamaan (spiritual), dan dalam suasana kekeluargaan (family atmosphere). Dalam hal ini seorang guru menempatkan diri bukan sebagai seorang pegawai yang harus mengajar siswa dengan sistem penjadwalan waktu yang ketat, tetapi guru tersebut menempatkan dirinya sebagai orang tua yang sedang membimbing dan mengasuh anaknya.

Rasa kasih sayang, keikhlasan, kejujuran, keagamaan, serta suasana kekeluargaan itulah yang sering saya namakan dengan roh pendidikan. Roh pendidikan merupakan napas kehidupan di setiap lini, lorong, dan sudut pendidikan.

Dalam konsep Ki Hadjar Dewantara, pendidikan yang dilaksanakan dengan penuh rasa kasih sayang, keikhlasan, kejujuran, keagamaan, dalam suasana kekeluargaan itu disebut dengan Sistem Among. Selanjutnya para guru atau pendidik yang bisa memerankan fungsinya secara baik disebut dengan pamong.

Dalam konsep Ki Hadjar Dewantara, guru tidak dibatasi waktu dan tempat dalam mendidik siswa sebagaimana orang tua mendidik anaknya. Pagi hari, siang hari, sore hari, petang hari, dan bahkan malam hari pun seorang guru harus ikhlas memberikan bimbingan kepada siswa. Demikian pula tempat pendidikannya pun tidak dibatasi di ruang-ruang kelas, tetapi di mana saja seorang guru harus sanggup berperan.

Dibangkitkan kembali

Dalam era globalisasi yang penuh tekanan dan kompetisi saat ini maka roh pendidikan pantas diungkap kembali. Kenapa? Dalam realitasnya roh pendidikan sudah hilang dari sekolah. Banyak sekolah yang kehilangan roh pendidikan sehingga hubungan antara guru dan siswa, antarsiswa, dan antarguru menjadi hubungan yang formalistis dan mekanistis belaka.

Andaikan ada ukuran keikhlasan, sincerelymeter misalnya, sekarang sulit untuk mendapatkan guru yang mengajar penuh dengan keikhlasan. Kalau ada 100 guru, barangkali mencari lima orang saja yang ikhlas mengajarnya sangat sulit ditemukan. Belum lagi guru yang mengajar dengan kasih sayang, kejujuran, agamis, dan dalam suasana kekeluargaan.

Tanpa bermaksud mengecilkan arti UU Guru dan Dosen, makna keprofesionalan yang digariskan dalam undang-undang ini kurang menyentuh aspek keikhlasan, kasih sayang, dan sebagainya itu. Kalau kita pahami UU Guru dan Dosen, kriteria keprofesionalan seorang guru hanya berkisar pada masalah kualifikasi pendidikan minimal, kesehatan jasmani dan rohani, serta kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Kriteria kasih sayang, kejujuran, keikhlasan, keagamaan, dan suasana kekeluargaan sama sekali tidak tersentuh oleh UU Guru dan Dosen. Jadi, mungkin saja terjadi ada guru yang tidak jujur, tidak ikhlas, dan tidak dengan kasih sayang dalam mendidik siswa bisa dinobatkan sebagai guru yang profesional. Kalau ini terjadi betapa ironisnya.

Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Indonesia memang sudah meninggalkan kita semua. Namun, menjaga roh pendidikan kiranya tetap menjadi tanggung jawab kita semua, bahkan roh pendidikan itu harus kita bangkitkan kembali.

Sumber: Republika Online

Categories: Info Pendidikan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: