Home > Motivasi > Mari Bermimpi!!

Mari Bermimpi!!

Dulu, Soekarno membangun negeri ini dengan mengajak rakyat bermimpi menjadi
salah satu bangsa yang disegani dunia. Soeharto pun memimpikan Indonesia
menjadi bangsa makmur.

Membaca sinyal atau tanda-tanda zaman itu penting. Jika salah memahami, bisa
keblinger. Gunung mau meletus atau bakal ada tsunami, juga memberi sinyal
tersendiri. Saat itu, konon, hewan akan berlarian seperti kesetanan menjauhi
marabahaya menuju tempat aman, mengikuti naluri kebinatangan.

Tanda-tanda zaman edan juga telah diramalkan Jayabaya. Siapa yang tidak ngedan
tak akan kebagian. Disebutkan antara lain: orang kecil selalu disalahkan
kendati tidak bersalah; Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri; Banyak
orang lupa pada asal usul; Orang jahat malah dinaikkan pangkat.

Sinyalemen menyebutkan, orang kita paling jago menjaga gengsi. Tampilan yang
penting harus oke, yang lain urusan nanti. Rumah kecil dan sumpek, tapi
memiliki layar kaca yang setipe TV-nya sak gede gajah. Ketidaknyamanan mata
yang pedih akibat menonton terlalu dekat, dipatahkan oleh ke-’wah’-an diri
memiliki layar kaca yang setipe orang gedongan.

Padahal dulu –ketika bangsa ini belum seingar bingar sekarang- banyak cara
baik yang diajarkan. Orangtua selalu punya banyak waktu untuk mengajarkan cara
yang baik kepada anak-anaknya. “Kalau minum harus duduk, bertemu orang tua
harus menghormat dan cium tangan, kalau makan jangan sambil bicara, berbicara
rendahkan nada suaranya, jika orang lain berbicara harus didengarkan dengan
penuh perhatian.”

Ajaran tentang cara baik itu terus diulang-ulang hingga terpatri dalam otak.
Terkadang cara baik itu melebur menjadi bagian dari tradisi kita. Suatu hal
yang disyukuri kalau itu terjadi pada diri kita. Sayangnya, kini banyak
orangtua tak lagi punya banyak waktu. Selain itu, kehidupan semakin rumit.
Kini, yang harus diperbuat seseorang kini bukan hanya makan minum, atau bertemu
dan berbincang dengan yang lain.

Yang juga harus diperbuat orang adalah meniti karir. Bahkan juga merebut
kekuasaan, menumpuk harta, membangun popularitas, berpolitik dan lain-lain.
Kegiatan itu tak diketahui orang tua dulu. Maka, mereka pun tak menyusunkan
cara baik untuk melakukan kegiatan tersebut. Kita pun lalu berpolitik dengan
menghalalkan cara. Kita main sikut untuk merebut kekuasaan. Kita gunakan segala
siasat untuk meniti karir. Kita tak ragu mengemplang untuk menumpuk harta.

Hasilnya Indonesia sekarang: tempat politisi tak tahu cara baik berpolitik;
tempat pengusaha tak tahu cara baik berusaha: tempat penguasa tak tahu cara
baik untuk menjalankan kekuasaannya.

Andai politisi tahu dan melaksanakan cara baik berpolitik; jika pengusaha paham
dan mempraktikkan cara baik berusaha; bila penguasa meresapi makna dan
menjalankan cara baik dalam memegang kekuasaan, insyaallah Indonesia tidak akan
terjerembab oleh krisis ekonomi berkepanjangan. Tak terjerat oleh utang yang
begitu mencekik, serta tak digerogoti oleh virus moralitas seperti sekarang.

Jadi tidak usah heran, walau telah delapan tahun usia reformasi, negeri ini
masih babak belur. Korupsi tengah digebrak, walau penyidiknya masih tumpang
tindih. Selain itu, ‘PR’ pemerintah masih menumpuk akibat Tsunami Aceh dan
Nias, Banjir Jember, Gempa Jogja, Banjir Sinjai, balita kurang gizi di NTB, 37
juta jiwa (17,5 persen) orang miskin dan terbanyak di Jawa.

Belum lagi beban utang luar negeri. Totalnya 190 miliar dolar AS. Walhasil,
makin kita pelototi angka itu, terasa lebih nyut-nyutan. Harap dipahami,
membayar utang berarti merampas masa depan anak cucu bangsa.

Celakanya pula, kesadaran sebagian penyelenggara negara untuk menyelamatkan
republik ini justru tipis. Mereka lebih doyan me-mark up proyek. Padahal,
dampak kurang gizi yang menakutkan ini adalah gagal tumbuh (fisik) dan
terganggunya otak anak. Fase perkembangan janin malah lebih menentukan lagi.
Data Badan Pusat Statistik menemukan, sebanyak 50 – 60 persen ibu hamil
terutama kaum miskin terkena anemia (kekurangan sel darah merah). Air susu ibu
yang anemia, bisa berakibat otak bayi kosong alias bebal. Tak percaya? Hasil
foto CT scan kepala bisa dipakai acuan.

Lebih dari itu, ternyata telinga janin adalah organ pengindra pertama yang
berkembang. Di rahim, janin disebut-sebut mampu nguping sepanjang waktu. Suara
yang menjalar melalui kulit, otot dan cairan ditubuh ibu ditangkap oleh telinga
janin.

Kesimpulannya sederhana: jika otak kosong dan kuping tak berfungsi sempurna
maka kemampuan untuk nguping bisa bias. Apalagi di negeri ini, banyak hal tidak
jelas. Fakta, isu, kasak-kusuk, lelucon, sering campur aduk hingga mudah
dipelintir ke kiri maupun kekanan oleh narasumber dan sulit dipilah.
Ketidakmampuan memilah — khususnya yang punya mulut asal omong– bisa
menjebloskan Anda ke bui, disomasi, digugat miliaran rupiah atau dihajar popor
aparat.

Akhirnya senjata pamungkasnya lebih pas begini: “Maaf, otak kami kosong akibat
kurang gizi di masa lalu.” Selanjutnya dapat ditebak, kelak generasi penerus
kita adalah generasi bermasalah. Amit-amit!

Oleh karena itu, tidak ada salahnya bila kita mulai percaya pada kekuatan
mimpi. Saya seorang yang sangat percaya pada kekuatan mimpi. Maksud saya, bukan
mimpi tak berdasar. Namun mimpi yang menurut istilah Alquran adalah azam.
Menurut pakar manajemen lain adalah visi dan pendidik terdahulu menyebutnya
sebagai ‘cita-cita setinggi langit’.

Coba tengok, negara tetangga Korea Selatan –mereka dapat bangkit menjadi
negara maju juga bermodalkan mimpi. Bangsa itu bermimpi dapat bersaing dengan
mantan penjajahnya, Jepang. Hyundai dibangun dengan semangat mengimbangi atau
malah menaklukkan Mitsubishi.

Mungkin Anda masih ingat nama Park Chung Hee? Ia yang membalik Korea Selatan
dari negara ‘kelas tiga’ seperti kita menjadi negara ‘kelas satu’ dunia. Hanya
dalam 10 tahun, ia berhasil melahirkan Hyundai, Samsung dan banyak lagi lainnya
lewat industrialisasi serta mengahiri kemiskinan perdesaan melalui program
Saemaul Undong nya.

Dulu, Soekarno membangun negeri ini dengan mengajak rakyat bermimpi menjadi
salah satu bangsa yang disegani dunia. Soeharto pun memimpikan Indonesia
menjadi bangsa makmur. Maka, mari belajar berani bermimpi. Berani berazam,
berani bervisi , berani bercita-cita setinggi langit karena akan lebih mudah
keluar dari kesulitan. Lebih mudah pula menggapai sukses. Tak ada sukses tanpa
mimpi, begitu kata orang bijak.

Jadi, sudah saatnya keluarga perlu membangun mimpi keluarga. Institusi perlu
membangun mimpi bersama sebagai institusi. Bangsa pun mutlak punya mimpi
bersama sebagai bangsa. Selebihnya, tendanglah keras mimpi itu, singsingkan lengan bajumu untuk mengejar mimpi itu, gapailah ia sedaya mampu. Semoga bermanfaat.

Armen

Categories: Motivasi
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: